hakikat 1 ontologi
filsafat ilmu
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Ontologi secara ringkas
membahas realitas atau suatu entitas dengan apa adanya. Pembahasan mengenai
ontologi berarti membahas kebenaran suatu fakta. Untuk mendapatkan kebenaran
itu, ontologi memerlukan proses bagaimana realitas tersebut dapat diakui
kebenarannya. Untuk itu proses tersebut memerlukan dasar pola berfikir, dan
pola berfikir didasarkan pada bagaimana ilmu pengetahuan digunakan sebagai
dasar pembahasan realitas.
Menurut Hornby (1974),
filsafat adalah suatu sistem pemikiran yang terbentuk dari pencarian
pengetahuan tentang watak dan makna kemaujudan atau eksistensi. Filsafat dapat
juga diartikan sebagai sistem keyakinan umum yang terbentuk dari kajian dan
pengetahuan tentang asas-asas yang menimbulkan, mengendalikan atau menjelaskan
fakta dan kejadian. Secara ringkas, dengan demikian, filsafat diartikan sebagai
pengetahuan tentang suatu makna.Hornby menyatakan pula bahwa pengetahuan ialah
keseluruhan hal yang diketahui, yang membentuk persepsi jelas mengenai kebenaran
atau fakta. Sedangkan ilmu adalah pengetahuan yang diatur dan diklasifikasikan
secara tertib, membentuk suatu sistem pengetahuan, berdasar rujukan kepada
kebenaran atau hukum-hukum umum.
Ilmu merupakan kegiatan
untuk mencari pengetahuan dengan jalan melakukan pengamatan atau pun
penelitian, kemudian peneliti atau pengamat tersebut berusaha membuat
penjelasan mengenai hasil pengamatan/penelitiannya. Dari hasil pengamatan/penelitian ini akan
dihasilkan teori dan dapat pula pengamatan/penelitian ini pula ditujukan untuk
menguji teori yang ada. Dengan demikian, ilmu merupakan suatu kegiatan yang
sifatnya operasional.Jadi terdapat runtut yang jelas dari mana suatu ilmu
pengetahuan berasal.
Karena sifat yang operasional tersebut, ilmu
pengetahuan tidak menempatkan diri dengan mengambil bagian dalam pengkajian
hal-hal normatif.Ilmu pengetahuan hanya membahas segala sisi yang sifatnya
positif semata. Hal-hal yang bekaitan dengan kaedah, norma atau aspek normatif
lainnya tidak dapat menjadi bagian dari lingkup ilmu pengetahuan. Dengan
demikian, agama sebagai misal, karena sifat normatifnya yang mutlak dan
mengandung kebenaran yang tidak bisa dipertentangkan, bukan bagian dari ilmu
pengetahuan.
Bagaimana ilmu pengetahuan diperoleh?Ilmu
pengetahuan dihasilkan dari perilaku berfikir manusia yang tersusun secara
akumulatif dari hasil pengamatan ataupenelitian.
Berfikir merupakan kegiatan penalaran untuk mengeksplorasi suatu pengetahuan atau pengalaman dengan maksud tertentu. Makin luas dan dalam suatu pengalaman atau pengetahuan yang dapat dieksplorasi, maka makin jauh proses berfikir yang dapat dilakukan. Hasil eksplorasi pengetahuan digunakan untuk mengabstraksi obyek menjadi sejumlah informasi dan mengolah informasi untuk maksud tertentu.Berfikir merupakan sumber munculnya segala pengetahuan.Pengetahuan memberikan umpan balik kepada berfikir. Hubungan interaksi antara berfikir dan pengetahuan berlangsung secara sinambung dan berangsur meninggi, dan kemajuan pengetahuan akan berlangsung secara kumulatif. Bagian terpenting dari berfikir adalah kecerdasan mengupas (critical intelegence).Ontologi ilmu, suatu analisis filsafat tentang kenyataan dan keberadaan yang berkaitan dengan hakikat “ada”.Episomologi ilmu, suatu teori tentang pengetahuan yang berkaitan dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan.Aksiologi ilmu, suatu teori tentang nilai atau makna.Untuk menghasilkan ilmu pengetahuan dari proses berfikir yang benar, dalam arti sesuai dengan tujuan mencari ilmu pengetahuan, maka seorang pengamat atau peneliti harus menggunakan penalaran yang benar dalam berfikir. Hasil penalaran itu akan menghasilkan kesimpulan yang dianggap sahih dari sisi keilmuan.Secara definisi, nalar merupakan kemampuan atau daya untuk memahami suatu informasi dan menarik kesimpulan. Dengan nalar tersebut, sesorang akan dapat menyajikan gagasan atau pendapat secara tertib, runtut, teratur dan mengikuti struktur yang sifatnya logis (mantik). Dengan nalar, ilmu dapat berfungsi menjelaskan, meramalkan dan mengendalikan keadaan atau kejadian.
Berfikir merupakan kegiatan penalaran untuk mengeksplorasi suatu pengetahuan atau pengalaman dengan maksud tertentu. Makin luas dan dalam suatu pengalaman atau pengetahuan yang dapat dieksplorasi, maka makin jauh proses berfikir yang dapat dilakukan. Hasil eksplorasi pengetahuan digunakan untuk mengabstraksi obyek menjadi sejumlah informasi dan mengolah informasi untuk maksud tertentu.Berfikir merupakan sumber munculnya segala pengetahuan.Pengetahuan memberikan umpan balik kepada berfikir. Hubungan interaksi antara berfikir dan pengetahuan berlangsung secara sinambung dan berangsur meninggi, dan kemajuan pengetahuan akan berlangsung secara kumulatif. Bagian terpenting dari berfikir adalah kecerdasan mengupas (critical intelegence).Ontologi ilmu, suatu analisis filsafat tentang kenyataan dan keberadaan yang berkaitan dengan hakikat “ada”.Episomologi ilmu, suatu teori tentang pengetahuan yang berkaitan dengan cara memperoleh pengetahuan dan metode keilmuan.Aksiologi ilmu, suatu teori tentang nilai atau makna.Untuk menghasilkan ilmu pengetahuan dari proses berfikir yang benar, dalam arti sesuai dengan tujuan mencari ilmu pengetahuan, maka seorang pengamat atau peneliti harus menggunakan penalaran yang benar dalam berfikir. Hasil penalaran itu akan menghasilkan kesimpulan yang dianggap sahih dari sisi keilmuan.Secara definisi, nalar merupakan kemampuan atau daya untuk memahami suatu informasi dan menarik kesimpulan. Dengan nalar tersebut, sesorang akan dapat menyajikan gagasan atau pendapat secara tertib, runtut, teratur dan mengikuti struktur yang sifatnya logis (mantik). Dengan nalar, ilmu dapat berfungsi menjelaskan, meramalkan dan mengendalikan keadaan atau kejadian.
Pada dasarnya terdapat
dua bentuk penalaran; deduksi dan induksi. Deduksi berpangkal pada suatu
pendapat umum, berupa teori, hukum atau kaedah dalam menyusun suatu penjelasan
tentang suatu kejadian khusus atau dalam menarik suatu kesimpulan. Deduksi bertujuan
untuk mencari kesahihan (validitas) suatu informasi, bukan pada kebenarannya.
Maka kesahihan struktur argumentasi adalah pokok dalam penalaran deduktif,
terlepas dari benar atau tidaknya pangkal pendapat yang dirujuk. Karena
rujukannya tersebut sudah pasti, maka deduksi akan menghasilkan ungkapan atau
kesimpulan yang berkepastian secara logis. Kelemahan metode penalaran ini
adalah kurang mampu membawa hasil penalaran ke pembentukan pendapat atau ide
baru.
Induksi berpangkal pada sejumlah fakta empirik untuk
menyusun suatu penjelasan umum, teori, atau kaidah yang berlaku secara umum di
masyarakat. Karena tidak mungkin untuk mengamati keseluruhan fakta yang ada,
terutama pada fakta yang muncul dikemudikan hari, kesimpulan induktif hanya
akan dapat mencapai kebenaran yang sifatnya probabilistik. Kesahihan pendapat
induktif ditentukan secara mutlak oleh kebenaran fakta yang dijadikan pangkal
penalaran. Namun demikian, induksi memiliki peluang untuk menciptakan teori
baru.
Jika induksi dan deduksi dapat digabungkan menjadi satu kesatuan struktur penalaran, maka penalaran akan menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
Jika induksi dan deduksi dapat digabungkan menjadi satu kesatuan struktur penalaran, maka penalaran akan menghasilkan manfaat yang lebih besar bagi perkembangan ilmu pengetahuan.
B. Rumusan Masalah
Dari latar
belakang diatas maka didapatkan permasalahan :
1. Bagaimana Ontologi itu sendiri ?
2. Bagaimana Metafisika itu ?
3. Apa itu Asumsi ?
4. Apa itu Peluang ?
5. Beberapa Asumsi dalam Ilmu
6. Apa saja Batas-batas Penjelajahan Ilmu ?
C. Tujuan
Sesuai dengan
permasalahan diatas, dapat dirumuskan tujuan permasalahan sebagai berikut :
1. Mendeskripsikan dan menjelaskan apa yang dimaksud dengan Ontologi itu
sendiri.
2. Mendeskripsikan dan menjelaskan apa yang dimaksud dengan Metafisika.
3. Mendeskripsikan dan menjelaskan apa yang dimaksud dengan apa itu Asumsi.
4. Mendeskripsikan dan menjelaskan apa yang dimaksud dengan apa Peluang.
5. Mendeskripsikan dan menjelaskan beberapa Asumsi dalam Ilmu.
6. Mendeskripsikan dan menjelaskan apa saja Batas-batas Penjelajahan Ilmu.
D. Manfaat
Penulisan makalah
ini bermanfaat sebagai berikut :
1. Membantu untuk mengembangkan dan mengkritisi berbagai bangunan sistem
pemikiran yang ada.
2. Membantu memecahkan masalah pola relasi antar berbagai eksisten dan
eksistensi.
3. Bisa mengeksplorasi secara mendalam dan jauh dan berbagai keilmuan maupun
masalah, baik itu sains hingga etika.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Ontologi
Pengertian paling umum pada ontologi adalah bagian dari bidang filsafat
yang mencoba mencari hakikat dari sesuatu.Pengertian ini menjadi
melebar dan dikaji secara tersendiri menurut lingkup cabang-cabang keilmuan
tersendiri. Pengertian ontologi ini menjadi sangat beragam dan berubah sesuai
dengan berjalannya waktu. Neches (1991) memberikan definisi tentang ontologi
yaitu: “Sebuah ontologi merupakan definisi dari pengertian dasar dan relasi
vocabulary dari sebuah area sebagaimana aturan dari kombinasi istilah dan
relasi untuk mendefinisikan vocabulary”.
Gruber (1991)
memberikan definisi yang sering digunakan oleh beberapa orang, definisi
tersebut adalah “Ontologi merupakan sebuah spesifikasi eksplisit dari
konseptualisme”. Berdasarkan definisi Gruber tersebut banyak orang yang
mengemukakan definisi tentang ontologi diantaranya Guarino dan Giaretta (1995)
mengumpulkan definisi yang berkoresponden dengan syntactic dan semantic
interprestasi. Sedangkan Borst (1997) melakukan penambahan dari definisi Gruber
dengan mengatakan “Sebuah ontologi adalah spesifikasi formal dari sebuah
konseptual yang diterima (share)”.
Sebuah ontologi
memberikan pengertian untuk penjelasan secara eksplisit dari konsep terhadap
representasi pengetahuan pada sebuah knowledge base. Sebuah ontologi juga dapat
diartikan sebuah struktur hirarki dari istilah untuk menjelaskan sebuah domain
yang dapat digunakan sebagai landasan untuk sebuah knowledge base”. Dengan
demikian, ontologi merupakan suatu teori tentang makna dari suatu objek,
property dari suatu objek, serta relasi objek tersebut yang mungkin terjadi
pada suatu domain pengetahuan. Ringkasnya, pada tinjauan filsafat, ontologi
adalah studi tentang sesuatu yang ada.
B. Metafisika
Bidang telaah filsafati yang disebut metafisika merupakan tempat berpijak
dari setiap pemikiran filsafati, termasuk pemikiran ilmiah. Pemikiran di
ibaratkan roket yang meluncur ke bintang-bintang menembus galaksi , maka
metafisika adalah landasan peluncurannya.
Acuan
berfikir :
apakah
hakekat kenyataan ini sebenar-benarnya ?
Beberapa
tafsiran metafisika :
Di
alam ini terdapat wujud – wujud yang bersifat gaib (supernatural) dan wujud-wujud
ini bersifat lebih tinggi atau lebih kuasa bila dibandingkan dengan alam yang
ada.
Contoh
pemikiran supernatural :
Kepercayaan
“animisme” manusia percaya terhadap roh-roh yang bersifat gaib yang terdapat di
dalam benda-benda seperti batu, pohon-pohonan , air terjun dll. Pantisme — >
serba Tuhan.
Lawan
dari “supernaturalisme“adalah paham “naturalisme” , yang menolak pendapat bahwa terdapat wujud-wujud
yang bersifat supernatural ini. Menurut naturalisme gejala-gejala alam tidak
disebabkan oleh pengaruh kekuatan yang bersifat gaib , melainkan oleh kekuatan
yang terdapat dalam alam itu sendiri. Naturalisme
/ materialisme :
Dikembangkan
oleh Democritos (460-370 SM) mengembangkan teori tentang atom yang di pelajari
dari gurunya bernama Leucippus.Hanya atom dan kehampaan itu bersifat nyata.
Indentik
paham naturalisme adalah paham :
- Mekanistik : gejala alam
dapat didekati dari segi proses kimia fisika.
- Vitalistik : hidup
adalah sesuatu yang unik yang berbeda secara subtantif dengan proses
tersebut.
- Monistik : tidak ada
perbedaan antara pikiran dengan zat , mereka hanya berbeda dalam gejala
disebabkan yang berlainan namun mempunyai subtansi yang sama.
- Demokritos adalah
seorang filsuf yang termasuk di dalam Mazhab Atomisme. Ia adalah
murid dari leukippos, pendiri mazhab tersebut Demokritos mengembangkan
pemikiran tentang atom sehingga justru pemikiran Demokritos yang lebih
dikenal di dalam sejarah filsafat
C.
Asumsi
Asumsi adalah praduga anggapan semetara (yang kebenarannya masih
dibuktikan) . timbulnya asumsi karena adanya permasalahan yang belum jelas, seperti
belum jelasnya hakekat alamini, yakni apakah gejala alamini tunduk kepada
determinisme , yakni hukum alam yang bersifat universal ataukah hukum semacam
itu tidak terdapat sebab setiap gejala merupakan akibat pilihan bebas ataukah
keumuman memang ada namun berupa peluang , sekedar tangkapan probalistik
(kemungkinan sesuatu hal untuk terjadi). Paham determinisme dikembangkan oleh
William Hamilton (1788-1856) dari doktrin Tomas Hubes (1588-1679) yang
menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah bersifat empiris yang dicerminkan oleh
zat dan gerak universal.
Sifat
asumsi : Tidak mutlak atau pasti sebagaimana ilmu yang
tidak pernah ingin dan tidak pernah berpretensi untuk mendapatkan ilmu
pengetahuan yang bersifat mutlak. Jadi asumsi bukanlah suatu keputusan mutlak.
Kedudukan
ilmu dalam asumsi : Ilmu memberikan pengetahuan
sebagai dasar untuk mengambil keputusan , karena keputusan harus didasarkan
pada penafsiran kesimpulan ilmiah yang bersifat relatif.
Resiko
asumsi : Apa yang diasumsikan akan mengandung resiko
secara menyeluruh. Seseorang yang mengasumsikan usahanya akan berhasil maka
direncanakan akan diadakan pesta keberhasilannya. Secara tiba- tiba usahanya
dinyatakan tidak berhasil.Resikonya menggagalkan pelaksanaan pestanya.
Kesimpulan:
1.sebuah asumsi adalah sebuah ketidakpastian.
2. asumsi perlu dirumuskan berdasarkan ilmu pengetahuan.
3. timbulnya asumsi karena adanya sesuatu kejadian / kenyataan.
1.sebuah asumsi adalah sebuah ketidakpastian.
2. asumsi perlu dirumuskan berdasarkan ilmu pengetahuan.
3. timbulnya asumsi karena adanya sesuatu kejadian / kenyataan.
Beberapa asumsi dalam ilmu akan terjadi perbedaan
pandang suatu masalah bila ditinjau dari berbagai kacamata ilmu begitu juga
asumsi.
Ilmu
sekedar merupakan pengetahuan yang mempunyai kegunaan praktis yang dapat
membantu kehidupan manusia secara pragamtis.Pragmatis
: sesuatu yang mengandung manfaat.
Asumsi-asumsi
dalam ilmu contohnya ilmu fisika yakni ilmu yang paling maju bila di bandingkan dengan ilmu-ilmu lain. Fisika merupakan ilmu teoritis yang di bangun
atas system penalaran deduktif yang meyakinkan serta pembtktian induktif yang
sangat mengesankan. Fisika terdapat celah-celah
perbedaan yang terletak di dalam pondasi dimana dibangun teori ilmiah diatas
yakni dalam asumsi tentang dunia fisiknya.(zat,gerak,ruang dan waktu).
Terdapat
beberapa jenis asumsi yang dikenal, antara lain; Aksioma. Pernyataan yang
disetujui umum tanpa memerlukan pembuktian karena kebenaran sudah membuktikan
sendiri.Postulat.Pernyataan yang dimintakan persetujuan umum tanpa pembuktian,
atau suatu fakta yang hendaknya diterima saja sebagaimana adanya Premise.
Pangkal pendapat dalam suatu entimen .Pertanyaan penting yang terkait dengan
asumsi adalah bagaimana penggunaan asumsi secara tepat? Untuk menjawab
permasalahan ini, perlu tinjauan dari awal bahwa gejala alam tunduk pada tiga
karakteristik (Junjung, 2005):
Deterministik
Paham
determinisme dikembangkan oleh William Hamilton (1788-1856) dari doktrin Thomas
Hobbes (1588-1679) yang menyimpulkan bahwa pengetahuan adalah bersifat empiris
yang dicerminkan oleh zat dan gerak universal.Aliran filsafat ini merupakan
lawan dari paham fatalisme yang berpendapat bahwa segala kejadian ditentukan
oleh nasib yang telah ditetapkan lebih dahulu.
Pilihan
Bebas
Manusia
memiliki kebebasan dalam menentukan pilihannya, tidak terikat pada hukum alam
yang tidak memberikan alternatif.Karakteristik ini banyak ditemukan pada bidang
ilmu sosial.Sebagai misal, tidak ada tolak ukur yang tepat dalam melambangkan
arti kebahagiaan.Masyarakat materialistik menunjukkan semakin banyak harta
semakin bahagia, tetapi di belahan dunia lain, kebahagiaan suatu suku primitif
bisa jadi diartikan jika mampu melestarikan budaya animismenya.Sebagai mana
pula masyarakat brahmana di India mengartikan bahagia jika mampu membendung
hasrat keduniawiannya.Tidak ada ukuran yang pasti dalam pilihan bebas, semua
tergantung ruang dan waktu.
Probabilistik
Pada
sifat probabilstik, kecenderungan keumuman dikenal memang ada namun sifatnya
berupa peluang. Sesuatu akan berlaku deterministik dengan peluang tertentu.
Probabilistik menunjukkan sesuatu memiliki kesempatan untuk memiliki sifat
deterministik dengan menolerir sifat pilihan bebas.Pada ilmu pengetahuan
modern, karakteristik probabilitas ini lebih banyak dipergunakan.Dalam ilmu
ekonomi misalnya, kebenaran suatu hubungan variabel diukur dengan metode
statistik dengan derajat kesalahan ukur sebesar 5%.Pernyataan ini berarti suatu
variabel dicoba diukur kondisi deterministiknya hanya sebesar 95%, sisanya
adalah kesalahan yang bisa ditoleransi.Jika kebenaran statistiknya kurang dari
95% berarti hubungan variabel tesebut tidak mencapai sifat-sifat deterministik
menurut kriteria ilmu ekonomi.
Dalam
menentukan suatu asumsi dalam perspektif filsafat, permasalahan utamanya adalah
mempertanyakan pada pada diri sendiri (peneliti) apakah sebenarnya yang ingin
dipelajari dari ilmu.Terdapat kecenderungan, sekiranya menyangkut hukum
kejadian yang berlaku bagi seluruh manusia, maka harus bertitik tolak pada
paham deterministik. Sekiranya yang dipilih adalah hukum kejadian yang bersifat
khas bagi tiap individu manusia maka akan digunakan asumsi pilihan bebas. Di
antara kutub deterministik dan pilihan bebas, penafsiran probabilistik
merupakan jalan tengahnya.
Ilmuwan
melakukan kompromi sebagai landasan ilmu.Sebab ilmu sebagai pengetahuan yang
berfungsi membantu manusia dalam memecahkan masalah praktis sehari-hari, tidak
perlu memiliki kemutlakan seperti agama yang berfungsi memberikan pedoman
terhadap hal-hal hakiki dalam kehidupan.Karena itu; Harus disadari bahwa ilmu
tidak pernah ingin dan tidak pernah berpretensi untuk mendapatkan pengetahuan
yang bersifat mutlak.
Ilmu
memberikan pengetahuan sebagai dasar untuk mengambil keputusan, dimana keputusan
itu harus didasarkan pada penafsiran kesimpulan ilmiah yang bersifat relatif
Jadi,
berdasarkan teori-teori keilmuan, tidak akan pernah didapatkan hal pasti
mengenai suatu kejadian. Yang didapatkan adalah kesimpulan yang probabilistik,
atau bersifat peluang.
D.
Peluang
Peluang secara sederhana diartikan sebagai probabilitas.Peluang 0.8 secara
sederhana dapat diartikan bahwa probabilitas untuk suatu kejadian tertentu
adalah 8 dari 10 (yang merupakan kepastian).Dari sudut keilmuan hal tersebut
memberikan suatu penjelasan bahwa ilmu tidak pernah ingin dan tidak pernah
berpretensi untuk mendapatkan pengetahuan yang bersifat mutlak.Tetapi ilmu
memberikan pengetahuan sebagai dasar bagi manusia untuk mengambil keputusan,
dimana keputusan itu harus didasarkan kepada kesimpulan ilmiah yang bersifat
relatif.Dengan demikan maka kata akhir dari suatu keputusan terletak ditangan
manusia pengambil keputusan itu dan bukan pada teori-teori keilmuan.
E.
Asumsi dalam Ilmu
Waktu kecil segalanya kelihatan besar, pohon terasa begitu tinggi,
orang-orang tampak seperti raksasa Pandangan itu berubah setelah kita berangkat
dewasa, dunia ternyata tidak sebesar yang kita kira, wujud yang penuh dengan
misteri ternyata hanya begitu saja. Kesemestaan pun menciut, bahkan dunia bisa
sebesar daun kelor, bagi orang yang putus asa.
Katakanlah
kita sekarang sedang mempelajari ilmu ukur bidang datar (planimetri).Dengan
ilmu itu kita membuat kontruksi kayu bagi atap rumah kita. Sekarang dalam
bidang datar yang sama bayangkan para amuba mau bikin rumah juga. Bagi amuba
bidang datar itu tidak rata dan mulus melainkan bergelombang, penuh dengan
lekukan yang kurang mempesona.Permukaan yang rata berubah menjadi kumpulan
berjuta kurva.
Asumsi
dan Skala Observasi
Mengapa
terdapat perbedaan pandangan yang nyata terhadap obyek yang begitu kongkret
sperti sebuah bidang?Ahli fisika Swiss Charles-Eugene Guye menyimpulkan gejala
itu diciptakan oleh skala observasi.Bagi skala observasi anak kecil pohon-pohon
natal itu begitu gigantik, sedangkan bagi skala observasi amuba, bidang datar
ini merupakan daerah pemukiman yang berbukit-bukit.
Jadi
secara mutlak sebenarnya tak ada yang tahu seperti apa sebenarnya bidang datar
itu. hanya Tuhan yang tahu! Secara filsafati mungkin ini merupakan masalah
besar namun bagi ilmu masalah ini didekati secara praktis.Seperti disebutkan
terdahulu ilmu sekadar merupakan pengetahuan yang mempunyai kegunaan praktis
yang dapat membantu kehidupan manusia secara pragmatis.Dengan demikian maka
untuk tujuan membangun atap rumah, sekiranya kita asumsikan bahwa permukaan
papan itu adalah bidang datar, maka secara pragmatis hal ini dapat
dipertanggungjawabkan.
Pada
awalnya kausalitas dalam ilmu-ilmu alam menggunakan asumsi determinisme.Namun
asumsi ini goyang ketika MaxPlanck pada tahun 1900 menemukan teori
Quantum.Teori ini menyatakan bahwa radiasi yang dikeluarkan materi tidak
berlangsung secara konstan namun terpisah-pisah yang dinamakan kuanta. Fisika
quantum menunjukkan adanya partikel-partikel yang melanggar logika hukum fisika
dan bergerak secara tak terduga
Selanjutnya
Indeterministik dalam gejala fisik ini muncul dengan pemenuhan Niels Bohr dalam
Prinsip Komplementer (Principle of Complementary) yang dipublikasikan pada
tahun 1913.Prinsip komplementer ini menyatakan bahwa elektron bisa berupa
gelombang cahaya dan bisa juga berupa partikel tergantung dari
konteksnya.Masalah ini yang menggoyahkan sensi-sendi fisika ditambah lagi
dengan penemuan Prinsip Indeterministik (Principle of Indeterminancy) oleh
Werner Heisenberg pada tahun 1927. Heisenberg menyatakan bahwa untuk pasangan
besaran tertentu yang disebut conjugate magnitude pada prinsipnya tidak mungkin
mengukur kedua besaran tersebut pada waktu yang sama dengan ketelitian yang
tinggi. Prinsip Indeterministik ini, kata William Barret, menunjukkan bahwa
terdapat limit dalam kemampuan manusia untuk mengetahui dan meramalkan
gejala-gejala fisik.
Ilmu-ilmu
ini bersifat otonom dalam bidang pengkajiannya masing-masing dan “berfederasi”
dalam suatu pendekatan multidisipliner. (jadi buka “fusi” dengan penggabungan
asumsi yang kacau balau).
Hal
– hal yang harus diperhatikan dalam pengembangan asumsi
1.
Asumsi ini harus relevan dengan bidang dan tujuan pengkajian disipin keilmuan.
Asumsi
ini harus operasional dan merupakan dasar bagi pengkajian teoretis..Asumsi
manusia dalam administrasi yang bersifat operasional adalah makhluk ekonomis,
makhluk sosial, makhluk aktualisasi diri atau makhluk yang kompleks.Berdasarkan
asumsi-asumsi ini maka dapat dikembangkan berbagai model, strategi, dan praktek
administrasi.
2.
Kedua, asumsi ini harus disimpulkan dari ‘keadaan sebagaimana adanya’ bukan
‘bagaimana keadaan yang seharusnya’.
Sekiranya
dalam kegiatan ekonomis maka manusia yang berperan adalah manusia ‘yang mencari
keuntungan sebesar-besarnya dengan pengorbanan sekecil-kecilnya’ maka itu
sajalah yang kita jadikan sebagai pegangan tidak usah ditambah dengan sebaiknya
begini, atau seharusnya begitu.Sekiranya asumsi semacam ini dipakai dalam
penyusunan kebijaksanaan (policy), atau strategi, serta penjabaran peraturan
alinnya, maka hal ini bisa saja dilakukan, asalkan semua itu membantu kita
dalam menganalisis permasalahan.Namun penetapan asumsi yang berdasarkan keadaan
yang seharusnya ini seyogyanya tidak dilakukan dalam analisis teori keilmuan
sebab metafisika keilmuan berdasarkan kenyataan sesungguhnya sebagaimana
adanya.
Seseorang
ilmuwan harus benar-benar mengenal asumsi yang dipergunakan dalam analisis
keilmuannya, sebab mempergunakan asumsi yang berbeda, maka berarti berbeda pula
konsep pemikiran yang dipergunakan.Sesuatu yang belum tersurat (atau terucap)
dianggap belum diketahui atau belum mendapat kesamaan pendapat.
F.
Batas Penjelajahan Ilmu
Ilmu memulai penjelajahannnya pada pengalaman
manusia dan berhenti di batas pengalaman manusia. Apakah ilmu mempelajari hal
ihwal surga dan neraka?Jawabnya adalah tidak; sebab surga dan neraka berada di
luar jangkauan pengalaman manusia.Baik hal-hal yang terjadi sebelum hidup kita,
maupun apa-apa yang terjadi sesudah kematian kita, semua itu berada di luar
penjelajahan ilmu.
Mengapa
ilmu hanya membatasi daripada hal-hal yang berbeda dalam batas pengalaman
kita?jawabnya terletak pada fungsi ilmu itu sendiri dalam kehidupan manusia:
yakni sebagai alat pembantu manusia dalam menanggulangi masalah-masalah yang
dihadapinya sehari-hari. Persoalan mengenai hari kemudian tidak akan kita
nyatakan kepada ilmu, melainkan kepada agama, sebab agamalah pengetahuan yang
mengkaji masalah-masalah seperti itu.
Ilmu
membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan
metode yang dipergunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara
empiris.Sekiranya ilmu memasukkan daerah di luar batas pengalaman empirisnya,
bagaimana kita melakukan pembuktian secara metodologis?bukankah hal ini
merupakan suatu kontradiksi yang menghilangkan keahlian metode ilmiah?
Kalau
begitu maka sempit sekali batas jelajahan ilmu, kata seorang, Cuma sepotong
dari sekian permasalahan kehidupan.Memang demikian, jawab filsuf ilmu, bahkan
dalam batas pengalaman manusia pun, ilmu hanya berwenang dalam menentukan benar
atau salahnya suatu pernyataan.Tentang baik dan buruk, semua (termasuk ilmu)
berpaling kepada sumber-sumber moral; tentang indah dan jelek, semua (termasuk
ilmu) berpaling kepada pengkajian estetik.Ilmu tanpa (bimbingan moral) agama
adalah buta, demikian kata Einstein.
Dengan
makin sempitnya daerah penjelajahan suatu bidang keilmuan maka sering sekali
diperlukan “pandangan” dari disiplin-disiplin lain. Saling pandang-memandang
ini, atau dalam bahasa protokolnya pendekatan multi-disipliner, membutuhkan
pengetahuan tentang tetangga-tetangga yang berdekatan. Artinya harus jelas bagi
semua: di mana disiplin seseorang berhenti dan di mana disiplin orang lain
mulai. Tanpa kejelasan batas-batas ini maka pendekatan multidisipliner tidak
akan bersifat konstruktif melainkan berubah menjadi sengketa kapling (yang
sering terjadi akhir-akhir ini).
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari Pembahasan yang telah dilakukan diperoleh beberapa kesimpulan :
1. Ontologi merupakan suatu teori tentang makna dari suatu objek, property dari
suatu objek, serta relasi objek tersebut yang mungkin terjadi pada suatu domain
pengetahuan. Ringkasnya, pada tinjauan filsafat, ontologi adalah studi tentang
sesuatu yang ada.
2. Pembahasan ontologi terkait dengan pembahasan mengenai metafisika. Mengapa
ontologi terkait dengan metafisika? Ontologi membahas hakikat yang “ada”,
metafisika menjawab pertanyaan apakah hakikat kenyataan ini sebenar-benarnya?
Pada suatu pembahasan, metafisika merupakan bagian dari ontologi, tetapi pada
pembahasan lain, ontologi merupakan salah satu dimensi saja dari metafisika.
Karena itu, metafisika dan ontologi merupakan dua hal yang saling terkait.Bidang
metafisika merupakan tempat berpijak dari setiap pemikiran filsafati, termasuk
pemikiran ilmiah. Metafisika berusaha menggagas jawaban tentang apakah alam
ini.
3. Asumsi diperlukan untuk
mengatasi penelaahan suatu permasalahan menjadi lebar. Semakin terfokus obyek
telaah suatu bidang kajian, semakin memerlukan asumsi yang lebih banyak.Asumsi
dapat dikatakan merupakan latar belakang intelektal suatu jalur pemikiran.
Asumsi dapat diartikan pula sebagai merupakan gagasan primitif, atau gagasan
tanpa penumpu yang diperlukan untuk menumpu gagasan lain yang akan muncul kemudian.
Asumsi diperlukan untuk menyuratkan segala hal yang tersirat. McMullin (2002)
menyatakan hal yang mendasar yang harus ada dalam ontologi suatu ilmu
pengetahuan adalah menentukan asumsi pokok (the standard presumption)
keberadaan suatu obyek sebelum melakukan penelitian.
4. Dasar teori keilmuan di
dunia ini tidak akan pernah terdapat hal yang pasti mengenai satu kejadian,
hanya kesimpulan yang probabilistik. Ilmu memberikan pengetahuan sebagai dasar
pengambilan keputusan di mana didasarkan pada penafsiran kesimpulan ilmiah yang
bersifat relatif.
B. Saran
Berdasarkan kesimpulan
yang telah dipaparkan, penulis memberikan saran kepada pembaca sebagai berikut
:
1. Dengan tuntasnya makalah ini diharapkan agar pembaca dapat memahami
pengertian Ontologi, Metafisika, Asumsi, Peluang, Asumsi dalam Ilmu, dan
Batas-batas Penjelajahan Ilmu.
Daftar Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar